Cadangan
devisa Indonesia mencapai jumlah US$ 51 miliar lebih. Jumlah itu
memang masih kurang dari 5% cadangan devisa Cina, tapi angka itu
merupakan rekor tertinggi yang pernah dicapai Indonesia. Berita
baguskah? Tentu! Karena uang adalah uang, faktor produksi. Artinya
setiap sen punya potensi produktif, meningkatkan kapasitas produksi,
melahirkan investasi, membuka kesempatan kerja, memberi penghasilan
sekaligus harga diri kepada tenaga kerja Indonesia, mengangkat daya
beli, dan sekian banyak efek pengganda lain. Dus memakmurkan
Indonesia. Setidaknya demikian dongeng ekonomi seperti yang selalu
kita baca dari buku teks.
Yang jadi soal, sebagian (besar) dari aliran dana asing yang masuk ke Indonesia itu berupa uang panas (hot money), limpahan dari global over liquidity. Terminologi uang panas ini menunjuk pada dana yang masuk ke dalam satu Negara untuk tujuan spekulasi jangka pendek. Setidaknya ada dua faktor besar di balik fenomena kelebihan likuiditas global tersebut. Pertama, naiknya harga rata-rata komoditi dunia, terutama yang terkait dengan energi seperti minyak, gas, batu bara, bahkan minyak sawit, yang - karena gilanya harga minyak bumi - mulai muncul sebagai sumber energi terbarukan. Kedua, perdagangan antar Negara yang meningkat tajam, sehingga cadangan devisa membengkak di banyak Negara, khususnya Negara-negera berkembang.
Dalam dikotomi pasar maju dan berkembang (developed and developing markets), surplus aliran dana berada di Negara berkembang. Bisa disimak dari semakin membesarnya nilai global portfolio yang sumber dananya sebagian besar berasal dari Negara maju. Fenomena ini juga merupakan hal yang sangat wajar karena tiga faktor: potensi pertumbuhan ekonomi Negara-negara berkembang (tertentu) yang jauh lebih tinggi ketimbang potensi pertumbuhan ekonomi Negara-negara maju, aliran dana antar Negara dalam format portfolio investment jauh lebih mudah dan murah dibandingkan format foreign direct investment, dan tingkat imbal hasil investasi Negara berkembang yang tidak berkorelasi - atau pada beberapa kasus berkorelasi negatif - dengan tingkat imbal hasil Negara maju.
Membanjirnya hot money lebih dipicu oleh motif carry trade. Binatang apa pula itu? Lebih mudah diterangkan dengan ilustrasi begini: tingkat imbal hasil (yield) obligasi Negara Jepang (denominasi Yen) dengan maturity 2 tahun berada di bawah 1%. Yield obligasi serupa di Amerika Serikat (dalam US Dolar) adalah 4,95%. Ada yield spread - seringkali disederhanakan sebagai differential interest rate - sebesar 400 basis points. Dengan asumsi nilai tukar Yen-US$ tetap, karena prinsip investasi berbunyi borrowing low lending high, maka bila seorang ninvestor pinjam uang dalam Yen dan melakukan investasi dalam US$, dia dapat keuntungan 4% per tahun.
Nah, Indonesia berada di barisan Negara dengan tingkat bunga super tinggi. Yield Surat Utang Negara masih bertengger di atas 9%. Ada yield spread lebih dari 400 basis point dari US Treasury Notes. Dengan kurs rupiah yang stabil, bahkan cenderung menguat, sangat logis bila ekses likuidias dolar itu menyerbu Indonesia. Uang panas itu menyerbu SUN, SBI, obligasi korporasi dan saham. Uang panas itu telah menggerek kurs rupiah, harga saham dan harga surat utang. Pada minggu ketiga Mei 2007, investor asing telah membeli Rp 3,4 triliun obligasi korporasi, Rp 45 triliun SBI, Rp 77 triliun SUN, dan Rp 551 triliun saham.
Persoalan pokok uang panas itu terletak di sini: they may reverse any time without warning. Bisa hengkang tiap saat tanpa pamit. Bila itu terjadi, kita (maksudku rupiah, saham dan harga obligasi) bisa terjerembab lagi. Lebih rumyam lagi: bila arus uang panas itu terus masuk sementara sektor riil tidak bergerak dan instrument keuangan tidak diperkaya, arus itu akan seperti adding fuel to the fire. Dan sektor keungan Indonesia akan menjadi bubble market!
Dari kacamata fundamental ekonomi, kemungkinan trend bearish di pasar keuangan, bukan sebuah gangguan yang fatal. Namunanya karena sektor keuangan kental dengan karakteristik self fulfilling prophecy, tren turun yang tidak diantisipasi dengan baik, bisa merusak ekspektasi dan kepercayaan.
Lalu jurus apa yang bisa dimainkan untuk mendinginkan uang yang panas itu? Cuma satu jawaban: Bikin ekonomi Indonesia mampu menjanjikan keuntungan jangka panjang lebih menarik ketimbang potensi keuntungan spekulatif jangka pendek. Kunci pertama, perbaiki iklim investasi. Dan itu berarti langkah konkrit untuk memperbaiki kepastian hukum, mengikis ekonomi biaya tinggi (pungli, red tape, korupsi), memperbaiki infrastruktur yang butut, menyederhanakan sistim perpajakan yang rumit, menghapus perda yang narrow sight dan kanibalisme pasar, melonggarkan peraturan ketenaga-kerjaan yang overprotektif, meluruskan informasi yang misleading dst.
Kedua, perkuat kaitan sektor riil dan sektor keuangan. Di pasar modal, misalnya, perlu dipacu masuknya emiten baru. Insentif perpajakan sebagai pengungkit tentu bisa dipertimbangkan, sepanjang IPO dilakukan untuk tujuan ekspansi. Sebab bila tidak akan banyak emiten semu, yang masuk ke pasar semata-mata untuk tujuan memperoleh insentif pajak. Contoh lain, penerbitan SPN dan SUN seyogianya diprioritaskan untuk peningkatan investasi pemerintah, khususnya pembangunan infrastruktur.
Di sektor keuangan, sering saya tulis, mendesak upaya serius pendalaman pasar (market deepening) antara lain memperkaya instrument, khususnya instrument yang mampu memfasilitasi lindung nilai dan risk management. Risiko nilai tukar, misalnya, selama ini telah terbukti menjadi pelatuk instabilitas keuangan. Masihkah pemerintah ragu untuk mengembangkan instrument derivatif rupian dan tingkat bunga yang ditransaksikan secara transparan dan terorganisir di bawah payung undang-undang dan diawasi langsung lembaga pemerintah?
Jakarta 30 Mei 2007
