JBA | BBJ

Disscusion Forum |  Member's Area    Indonesia Version English Version

Description

  • Home
  • About Us
    • Foreword
    • History
    • Profile
    • Organization
    • Founders
    • JAFeTS
  • Products
    • Gold
      • Specification
      • Description
      • Delivery Points
    • Olein
      • Specification
      • Description
      • Delivery Points
    • Rolling Gold
    • Rolling Gold Index
      • Specification
      • Description
    • KGEUSD
      • Specification
      • Description
    • Organized CPO Auction
  • Prices & Data
    • Historical Price
    • Settlement Prices
    • Live Price
  • News
    • Agenda & Event
    • Press Release
    • Related News
  • Members
    • How To Join
    • Member List - Brokers
    • Member List - Traders
    • Member List - Black List
    • Submit Report
  • Resources & Community
    • Glossary
    • Photo Gallery
    • FAQ
    • Trading Manual
    • Articles
    • Links
    • Forums
  • Contact Us
Home >> Content

JBA


Hasan Zein Mahmud


Saya masih ingin melanjutkan celoteh mengenai indeks harga saham. Sejak Juni 2002 BBJ bekerjasama dengan Harian Bisnis Indonesia telah meluncurkan JBA-25. JBA meruapkan singkatan JFX-Bisnis Indonesia Average. Angka 25 menunjukkan jumlah saham yang masuk sebagai anggota indeks, yaitu 25 saham yang tercatat di BEJ yang diseleksi dengan kriteria tertentu, dimutakhirkan setiap tahun pada awal Juli, dan dihitung dengan formula dasar rata-rata harga.


Peluncuran JBA-25 dimotivasi oleh beberapa tujuan. Pertama keinginan untuk ambil bagian dalam memperkaya indikator keuangan di Indonesia, yang diharapkan mampu membantu kelancaran pengambilan keputusan manajer investasi dalam building portfolio, memfasilitasi reksadana indeks dan menyediakan market benchmark dalam proses portfolio performance evaluation. Kedua, membuat headline index sebagai media sosialisasi BBJ yang pada saat itu masih balita. Ketiga, didorong pemahaman bahwa indeks yang telah terbit hingga saat itu, karena alasan tertentu, memiliki peluang yang kecil untuk berhasil sebagai underlying asset produk derivative, khususnya kontrak berjangka indeks saham (stock index futures, SIF)


Proses peluncuran JBA-25 itu sendiri mengalami proses yang rumit dan "aneh". Pada tahun pertama operasinya, tahun 2001, BBJ mula-mula merintis kerjasama dengan Masindo Sekuritas (MS) untuk mempersiapkan peluncuran indeks harga saham baru. Kerjasama itu sudah sampai pada tingkat penetapan criteria, mekanisme seleksi dan formula indeks, ketika MS menyatakan mundur dari kerjasama, karena tidak mendapat restu dari otoritas (?). Penjajagan berikutnya dengan Reuter Indonesia, yang pada tahap awal sangat antusias, namun mengalami nasib serupa dengan alasan yang kurang lebih sama. Tak kenal menyerah, BBJ kemudian merancang kerjasama dengan Harian Investor Daily. Satu hari sebelum penandatangan MOU, pimpinan Investor Daily menyatakan mundur dengan alasan yang sama.


Rencana kerjasama berikutnya - dengan IMQ - menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Draft kerjasama sudah disepakati dan undangan acara penandatanganan sudah diedarkan ketika CEO IMQ menyatakan mundur dari kerjasama. Karena undangan sudah beredar, acara tetap berlangsung, walaupun agendanya berubah total. Acara yang semula adalah penandatangan kerjasama menjadi pengumuman pembatalan kerjasama.


Harian Bisnis Indonesia menjadi satu-satunya media massa yang berani menembus "lingkaran setan" yang diciptakan oleh invisible power tersebut. Itu pun lengkap dengan embel-embel bahwa JBA-25 hanya boleh digunakan untuk tujuan headline index dan tidak akan dijadikan underlying asset SIF


Ada dua karakteristik yang membedakan JBA-25 dengan beberapa indeks yang telah terbit terlebih dahulu. Pertama, formula perhitungan indeks. Hampir seluruh indeks yang pernah diterbitkan atas saham-saham yang tercatat di BEJ, dihitung berdasar rata-rata tertimbang nilai pasar, sementara JBA-25 dihitung dengan rata-rata harga. Karena itu, JBA memiliki angka dasar yang lebih tinggi. Empiris menunjukkan bahwa indeks harga saham yang sukses sebagai underlying asset SIF adalah indeks yang dihitung berdasar rata-rata harga. JBA dengan demikian selalu melakukan adjustment terhadap setiap aksi korporasi yang membawa dampak split effects (penurunan harga saham) seperti stock dividend, saham bonus, stock split, right issue dll, JBA bahkan dirancang untuk fully reinvestment scheme dengan melakukan adjustment terhadap dividen tunai. Dengan demikian JBA dapat menjadi indikator keuntungan yang sempurna bagi portfolio yang komposisi sahamnya indentik dengan anggota JBA.


Perbedaan kedua adalah kriteria seleksi. Seleksi JBA dilakukan dengan 2 tahap. Tahap pertama seleksi berdasar likuiditas, yang teridiri dari kontinuitas transaksi, harga saham minimal dan kapitalisasi minimal. Tahap kedua seleksi berdasar merit kinerja emitan dan fluktuasi harga saham.


Pada pemutakhiran yang paling baru, Juli 2007, komposisi JBA terdiri dari: saham industri Pertambangan 6 saham (24%), Keuangan 5 saham (20%), Pertanian 3 saham (12%), Konsumsi 3 saham (12%), Infrastruktur / Utilitas 3 saham (12%) Industri Kimia / Dasar 2 saham ( 8%), Perdagangan & Jasa 2 saham (8%) dan Aneka Industri 1 saham (4%).


Lalu bagaimana kinerja JBA sejak diluncurkan? Berikut perbandingannya dengan IHSG dan LQ 45 dalam dua aspek: Pergerakan Indeks dan Return Harian. Let the facts talk for themselves.

jba


 

 



 






Member login

Forgot Password?

  • Disclaimer |
  • Site Map |
  • Contact
© Copyright 1999-2008. Jakarta Futures Exchange. All Rights Reserved.